Tandan buah segar (TBS) petani/ist

Harga CPO Mulai Bergerak Naik Walau Masih Tertekan Corona

Bagikan :

CAKRAWALATODAY.COM – Harga komoditas minyak sawit mentah (CPO) masih berada dalam tekanan. Namun perlahan-lahan harga CPO bergerak naik.

Data Refinitiv menunjukkan, harga CPO kontrak pengiriman Mei 2020 di Bursa Malaysia Derivatif (BMD) berada di level RM2.645/ton pada Senin (17/2/2020). Sebelumnya harga CPO sempat menyentuh level RM2.627/ton.

Harga CPO sepekan kemarin mengalami koreksi 5,4%. Penyebabnya adalah turunnya ekspor minyak sawit Malaysia ke dua destinasi utamanya yaitu India dan China. Hal ini membuat harga CPO tak seperkasa dulu.

Harga CPO sempat menyentuh level tertingginya sejak awal tahun pada 10 Januari 2020. Kala itu, satu ton CPO dihargai RM3.134.

Harga CPO masih dibayang-bayangi oleh merebaknya kasus virus corona di China. Virus yang resmi diberi nama COVID-19 oleh WHO ini terus menelan korban setiap harinya. Berdasarkan data terbaru John Hopkins CSSE, jumlah kasus yang dilaporkan secara global mencapai 71.331, sementara jumlah korban yang meninggal mencapai 1.775 orang.

Sentimen ini menjadi penggerak utama harga CPO. Wajar saja, mengingat China merupakan pembeli minyak nabati terbesar kedua setelah India. Kala wabah ini terus merebak maka dapat mempengaruhi permintaan minyak nabati.

Momen libur tahun baru imlek yang harusnya penuh suka cita berubah menjadi penuh kengerian saat belasan kota di China dikarantina agar wabah virus corona tak terus menyebar luas.

Momen libur panjang tahun baru yang umumnya membuat perdagangan sepi serta ditambah dengan isu merebaknya virus corona membuat harga-harga komoditas tertekan, salah satunya adalah CPO.

Namun harga CPO mendapat sedikit tenaga setelah penurunan ekspor minyak sawit Malaysia untuk periode 1-15 Februari tidak sedalam pada periode 10 hari awal Februari.

Menurut survei yang dilakukan oleh beberapa surveyor kargo, ekspor minyak sawit Malaysia hingga pertengahan Februari turun 6,7% – 10% dibanding bulan sebelumnya. Jumlah penurunan ini lebih rendah jika dibanding periode 10 hari awal Februari yang mencapai 20% – 29,4% dibanding periode yang sama bulan Januari.**

Sumber: CNBC Indonesia

Print Friendly, PDF & Email