Berita TerbaruPendidikan

Lulusan Sekolah Vokasi Harus Punya Tiga Hal ini untuk Masuk Pasar Kerja, Apa Saja?

Bussiness Matching and Public Discussion Digelar di Politeknik Caltex Riau

Cakrawalatoday.com — Hubungan dunia usaha dunia industri (DUDI) dengan satuan pendidikan vokasi terus diperbaiki. Bagaimana satuan pendidikan vokasi, baik itu sekolah menengah kejuruan (SMK) maupun perguruan tinggi vokasi, menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan DUDI.

Bukan hanya keahlian yang didapat di bangku pendidikan, lulusan satuan pendidikan vokasi juga dituntut memiliki SKA, yakni soft skill, knowledge, dan attitude untuk dapat masuk ke pasar kerja.

Hal tersebut mengemuka pada acara Bussiness Matching and Public Discussion dengan tema “Memperkuat Kelembagaan Vokasi dalam Mengoptimalkan Kemitraan bersama DUDI”. Kegiatan yang berlangsung di Hall Serba Guna Politeknik Caltex Riau, Selasa (9/7/2024) ini dibuka oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Riau Boby Rachmat.

Soft skill adalah kemampuan non-teknis yang melekat pada diri seseorang, termasuk kemampuan komunikasi, kecerdasan sosial, karakteristik, dan adaptasi di kehidupan dan dunia kerja. Aspek soft skill lainnya adalah kecerdasan emosional dan kepemimpinan.

Sedangkan knowledge atau pengetahuan dimaksudkan sebagai gabungan antara informasi, pengalaman, dan keterampilan yang dimiliki seseorang. Pengetahuan merupakan kemampuan untuk memahami, menginterpretasikan, dan menggunakan informasi dengan cara yang berguna dan efektif. Sementara Attitude bisa dimaknai sebagai perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain yang disertai dengan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap tersebut.

Kadisnaker Boby kepada jurnalis usai acara pembukaan mengungkapkan, masalah regulasi serta sarana dan prasarana pendidikan vokasi di Riau ini sudah ada dan lengkap. Namun menurutnya, sekarang ini bagaimana pendidikan vokasi bisa menghasilkan lulusan yang sesuai dengan pasar kerja.

“Artinya, apa yang kita buat programnya, kegiatannya, rumusannya, baik di SMK maupun di kampus (perguruan tinggi) ini sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Jadi kita berharap baik kelembagaan vokasi meupun kemitraan ini bisa saling bersinergi tertutama di dunia usaha dan dunia industri,” ucapnya.

Menurut Boby potensi industri di Riau ini cukup besar. Karenanya ia berharap tenaga kerja lokal bisa diserap di Riau, bahkan kalau sudah melebihi bisa bekerja di luar Riau.

Penandatanganan nota kerja sama antara Politeknik Caltex Riau, Politeknik Bengkalis, dan Politeknik Kampar. (Foto: Abbas Abdurrahman)

Kegiatan diskusi ini digelar oleh Tim Penguatan Ekosistem Kemitraan Vokasi Provinsi Riau dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di Provinsi Riau dan memperkuat kemitraan antara institusi pendidikan vokasi dan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Tujuannya untuk mempertemukan para penyelenggara pendidikan vokasi dengan DUDI guna mengoptimalkan potensi kemitraan yang saling menguntungkan.

Tim Penguatan Ekosistem Kemitraan Vokasi Provinsi Riau sendiri terdiri dari Politeknik Negeri Bengkalis, Politeknik Caltex Riau, dan Politeknik Kampar.

DIskusi publik mengahdiskan sejemlah narasumber, yakni Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Riau H Boby Rachmat SSTP MSi, Tim Pakar Dit. Mitras DUDI Prof Dr Ir Lilik Sudiajeng MErg, Direktur Politeknik Negeri Bengkalis Johny Custer ST MT, Vera dari Agung Toyota, Dr Ir Indra Hasan MT dari Kadin Provinsi Riau, serta Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru Syarif Dayan.

Selain diskusi publik, digelar pula penandatangan nota kesepakatan (MoA) antara PCR dengan Politeknik Bengkalis dan Politeknik Kampar. Kemudian juga ada ekspo vokasi yang diikuti beberapa perusahaan dan sekolah.

Ubah Pola Magang

Seringnya DUDI meminta persyaratan pengalaman kerja yang cukup lama, membuat satuan pendidikan vokasi mengubah pola magang atau praktik kerja lapangan siswa dan mahasiswa mereka.

Direktur Polbeng Johny Custer menyatakan pihaknya mengubah sistem magang. Sejak tahun lalu, magang mahasiswa Polbeng dilaksanakan selama satu tahun dan sepenuhnya di industri.

“Tujuannya itu tadi, supaya setelah mereka tamat mereka telah memiliki pengalaman kerja,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Direktur Politeknik Kampar Ir Nina Veronika ST MSc. Menurutnya, dengan adanya magang enal bulan hingga satu tahun di industri itu menguatkan anak didik untuk langsung bekerja.

Seorang siswa UT School sedang praktik mengoperasikan alat berat melalui simulator, pada ekspo di acara Bussiness Matching and Public Discussion, Selasa (9/7/2024). (Foto: Abbas Abdurrahman)

“Beberapa kampus dan SMK juga sudah membekali dengan sertifikasi kompetensi. Ini menguatkan anak-anak didik kita untuk diterima di dunia kerja,” ujarnya.

Sementara bagi siswa SMK, untuk mendapatkan pengalaman kerja itu juga terjadi perubahan pada pola praktek kerja industri (prakerin).

“Untuk konteks SMA, sekarang sudah ada transformasi untuk prakerin (praktik kerja industri). Prakerin di masa belajar kita sudah ubah, dulu tiga bulan sekarang enam bulan,” terang Dr Ir Indra Hasan MT dari Kadin Provinsi Riau.

Tidak hanya diperpanjang menjadi enam bulan, prakerin juga waktunya digeser ke akhir masa pembelajaran. “Kalau dulu kan kelas sebelas, selesai prakerin mereka masuk (sekolah) lagi, padahal ada yang mau direkrut. Sehingga sekarang ditarik ke tahun ajaran akhir, yakni kelas tiga (kelas dua belas) semester akhir,” tambah Indra Hasan.

Jadi, tambahnya, jika ada peserta didik yang memang dianggap punya kinerja bagus, mereka bolah langsung direkrut oleh industrinya.

“Jadi sudah ada perubahan sebetulnya. Dan kami berharap perubahan itu juga bisa dianggap pengalaman kerja,” tutupnya.

Teaching Factory

Sementara, Direktur Politeknik Caltex Riau Dr Dadang Syarif Sihabuddin Sahid SSi MSc berharap industri dapat juga mengubah pola magang di perusahaan mereka. Karena menurutnya, anak magang itu betul-betul bisa berkontribusi di industrinya.

Kemudian, dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka dari Kemendiknas hari ini, ia menyebut teaching factory yakni bagaimana suasana industri bisa dihadirkan di kampus-kampus menjadi penting..

“Betul-betul masalah-maslah industri kita buat, kita lakukan di kampus. Sehingga suasananya mirip lah. Jadi pada saat kita melepas anak-anak ke ‘lautan bebas’, di sini pun sudah kita sediakan sarananya dan prasaranya,” urai Dadang.

Direktur PCR mengakui hal tersebut merupakan tantangan bagi pendidikan vokasi. “Teaching Factory harus didukung oleh, selain infrastruktur, SDM juga harus memenuhi. Jadi ini harus kolaborasi. Pemerintah mungkin bisa membantu dari sisi itu dan regulasi, industri juga mau terbuka bahwa hal-hal itu bisa dilakukan di institusi pendidikan. Itu juga pengalaman yang bisa didapatkan anak-anak kita selain magang,” pungkasnya. */Abs

Print Friendly, PDF & Email

Back to top button