Mahasiswa PCR Melaju ke Final Lomba Riset Sawit 2026 BPDP Lewat Inovasi Keranjang Pintar Berbasis IoT

CAKRAWALATODAY.COM —Prestasi kembali ditorehkan mahasiswa Politeknik Caltex Riau (PCR). Tim mahasiswa yang dipimpin Rahadatul Aisy berhasil melaju ke babak final Lomba Riset Sawit 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Tim ini menjadi satu dari 10 finalis nasional yang akan berkompetisi pada babak final di Jakarta, 20–21 Juli 2026, setelah berhasil melewati serangkaian tahapan seleksi yang diikuti ribuan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Pada kompetisi tersebut, tim PCR mengusung riset berjudul “Pengembangan Sistem Keranjang Pintar Berbasis Internet of Things Guna Meningkatkan Akurasi dan Mitigasi Kecurangan Penimbangan Buah Kelapa Sawit.” Tim ini beranggotakan Rahadatul Aisy, Said Dafa Pratama, Ephipha Nias Gule, Teguh Al-Azizul, dan Achmad Daniel. Selama proses penelitian, mereka mendapatkan pendampingan dari dosen pembimbing Wira Indani, S.T., M.T., Roni Novison, S.T., M.T., Fifitri Ali, S.S.T., M.Sc., Abdi Bhayangkara, S.E., M.Ak., serta Erzi Hidayat, S.T., M.Kom.
Inovasi yang dikembangkan hadir sebagai solusi atas permasalahan yang masih dihadapi industri kelapa sawit, khususnya dalam menjaga transparansi dan akurasi proses penimbangan tandan buah segar (TBS).
Ketua tim, Rahadatul Aisy, menjelaskan bahwa proses penimbangan hasil panen di lapangan hingga saat ini masih banyak menggunakan metode manual yang berpotensi menimbulkan kesalahan maupun praktik kecurangan. Tidak jarang terjadi perbedaan antara berat sawit yang ditimbang di lokasi panen dengan berat yang tercatat di tempat pembelian atau penimbangan akhir.
“Sering kali terjadi perbedaan antara berat sawit yang dihitung di lapangan dengan berat yang dicatat di tempat penimbangan akhir. Perbedaan tersebut tentu dapat mengakibatkan kerugian bagi pemilik lahan sawit,” ujarnya.
Berangkat dari permasalahan tersebut, tim mengembangkan sebuah keranjang pintar berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu melakukan penimbangan secara digital sekaligus menyimpan data hasil penimbangan secara otomatis. Teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam rantai pasok industri kelapa sawit.
Melalui sistem yang dikembangkan, pemilik lahan dapat memastikan bahwa data penimbangan di lokasi panen sesuai dengan hasil penimbangan di tempat pembelian. Data tersebut tersimpan secara digital sehingga dapat menjadi bukti apabila terjadi perbedaan hasil penimbangan.
Cara kerja alat ini cukup sederhana. Petani terlebih dahulu menghidupkan sistem, kemudian memasukkan tandan buah segar ke dalam keranjang pintar. Berat buah akan langsung ditampilkan pada layar LCD. Setelah berat tersimpan melalui tombol Add, proses dapat diulangi hingga seluruh hasil panen selesai ditimbang. Selanjutnya, petani menekan tombol Send untuk mengirimkan seluruh data penimbangan ke aplikasi sehingga hasil penimbangan dapat dipantau secara langsung.
Rahadatul mengatakan, inovasi tersebut menawarkan keunggulan dibandingkan metode penimbangan konvensional yang masih menggunakan timbangan dacin.
“Timbangan manual masih rentan terhadap human error maupun manipulasi data. Melalui keranjang pintar ini, data berat menjadi lebih akurat sekaligus menjadi bukti bagi petani sebagai bargaining power dalam proses transaksi jual beli sawit,” jelasnya.
Dalam pengembangannya, tim memanfaatkan sejumlah komponen utama, di antaranya sensor load cell, modul HX711 ADC, LCD display, serta mikrokontroler yang terintegrasi dalam sistem Internet of Things.
Meski demikian, proses penelitian tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala terbesar yang dihadapi tim adalah merancang bentuk akhir keranjang pintar agar tetap ergonomis, kuat, dan sesuai dengan kondisi operasional di lingkungan perkebunan kelapa sawit.
Perjalanan menuju babak final juga tidak mudah. Seleksi diawali dengan tahap administrasi yang diikuti 2.223 akun peserta dari seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.340 proposal dinyatakan lolos administrasi. Selanjutnya hanya 40 proposal terbaik yang memperoleh pendanaan riset sebesar Rp20 juta dari BPDP. Setelah melalui proses monitoring, evaluasi, dan penilaian lanjutan, hanya 10 tim terbaik yang berhak melaju ke babak final nasional, termasuk tim dari Politeknik Caltex Riau.
Keberhasilan tersebut menjadi momen yang membanggakan bagi seluruh anggota tim.
“Kami sangat senang dan terharu bisa lolos ke babak final. Perjuangan kami menyelesaikan penelitian ini akhirnya membawa kami menjadi salah satu dari sepuluh finalis nasional,” ungkap Rahadatul.
Menjelang babak final yang akan berlangsung di Jakarta pada 20–21 Juli 2026, tim terus mematangkan berbagai persiapan. Selain menyempurnakan materi presentasi, mereka juga rutin melakukan simulasi presentasi dan memperkuat kesiapan mental agar mampu tampil maksimal saat memaparkan hasil riset di hadapan dewan juri.
Rahadatul mengaku bersyukur atas dukungan penuh yang diberikan Politeknik Caltex Riau selama proses penelitian hingga persiapan menuju babak final.
“Kami sangat bersyukur karena pihak kampus memberikan dukungan yang luar biasa, baik dalam proses penelitian maupun persiapan menuju final. Dukungan ini menjadi motivasi bagi kami untuk memberikan hasil terbaik,” katanya.
Pada babak final nanti, tim menargetkan mampu membawa pulang gelar juara. Namun, bagi mereka, capaian terbesar bukan hanya memenangkan kompetisi, melainkan memastikan inovasi yang dikembangkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Harapan kami, alat ini dapat didukung untuk masuk ke tahap komersialisasi sehingga benar-benar dapat dimanfaatkan oleh petani sawit. Kami ingin teknologi ini membantu petani memperoleh haknya melalui proses penimbangan yang lebih transparan, akurat, dan terhindar dari praktik kecurangan,” tutup Rahadatul.
Babak final Lomba Riset Sawit 2026 akan mempertemukan 10 tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mempresentasikan hasil riset inovatif mereka di hadapan dewan juri. Keberhasilan menembus babak final menjadi bukti bahwa mahasiswa Politeknik Caltex Riau mampu menghadirkan inovasi berbasis teknologi yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga menawarkan solusi nyata bagi tantangan di sektor perkebunan kelapa sawit. Melalui riset terapan seperti ini, PCR terus menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat dan industri.


