AKSARA Hadir di SMA Negeri 4 Pekanbaru, Dorong Pengarsipan Digital Karya Sastra Siswa melalui Padlet

Cakrawalatoday.com – Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru FKIP Universitas Islam Riau menghadirkan AKSARA (Arsip Karya Sastra Siswa), sebuah proyek kepemimpinan yang mendorong pengarsipan digital karya sastra melalui pemanfaatan aplikasi Padlet, di SMA Negeri 4 Pekanbaru. Mengusung tagline “Berkarya, Mengarsipkan, Mengapresiasi”, program ini menjadi upaya untuk memberikan ruang bagi karya sastra agar tidak hanya menjadi tugas pembelajaran, tetapi juga dapat dihimpun, diapresiasi, dan dikembangkan menjadi sebuah antologi.
Program AKSARA diwujudkan melalui pelatihan pemanfaatan Padlet sebagai media pengarsipan karya sastra yang menyasar guru Bahasa Indonesia dan Komunitas Bahasa dan Sastra SMA Negeri 4 Pekanbaru. Kegiatan pendampingan bagi guru dilaksanakan pada Kamis, 24 September 2026, di SMA Negeri 4 Pekanbaru.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara dari tim proyek AKSARA, kemudian dilanjutkan dengan sambutan ketua pelaksana proyek, Nurmalia Sarah SPd. “Terima kasih kepada pihak sekolah yang telah memberikan kesempatan kepada tim untuk berkolaborasi dalam menghadirkan program pengarsipan digital karya sastra siswa,” ucapnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh salah seorang anggota tim, Nur Afni Widari SPd. Materi yang diberikan mencakup pengenalan Padlet, pemanfaatannya dalam pembelajaran, serta praktik mengelola ruang digital untuk mengumpulkan dan mengarsipkan karya sastra. Melalui pelatihan ini, guru dan anggota komunitas diperkenalkan pada cara memanfaatkan Padlet agar karya dapat tersimpan secara lebih terorganisasi dan mudah diakses.

Pada akhir kegiatan, dosen pendamping proyek Andi Idayani SPd MPd menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah atas kesempatan dan ruang kolaborasi yang telah diberikan. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan AKSARA sebagai proyek kepemimpinan yang menghubungkan pembelajaran, teknologi digital, dan penguatan budaya literasi di sekolah.
Nurmalia Sarah menjelaskan, AKSARA tidak berhenti pada pelatihan penggunaan platform digital. Program ini juga menghadirkan proses pengumpulan dan kurasi puisi hingga menghasilkan antologi karya sastra.
“Padlet digunakan sebagai ruang pengumpulan dan pengarsipan awal, kemudian karya-karya yang dihimpun melalui proses kurasi sebelum dipilih untuk dimasukkan ke dalam antologi,” katanya.
Antologi tersebut memuat 119 puisi terpilih yang berasal dari berbagai kontributor, yaitu dosen pendamping proyek, sembilan mahasiswa inisiator AKSARA, empat guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 4 Pekanbaru, serta 99 siswa. Kehadiran beragam kontributor ini memperlihatkan bahwa pengembangan budaya literasi dapat dibangun melalui kolaborasi antara mahasiswa calon guru, pendidik, dan peserta didik.
Puisi-puisi yang terhimpun mengangkat tiga tema utama, yaitu keluarga, persahabatan, serta pendidikan dan cita-cita. Dari keseluruhan karya, terdapat 47 puisi bertema keluarga, 23 puisi bertema persahabatan, dan 49 puisi bertema pendidikan dan cita-cita.
“Ketiga tema tersebut memberi ruang bagi penulis untuk menuangkan pengalaman, hubungan sosial, nilai kehidupan, serta harapan terhadap masa depan melalui karya sastra,” tambah Sarah.
Proses ini menjadi wujud nyata dari tagline “Berkarya, Mengarsipkan, Mengapresiasi”. Berkarya memberikan kesempatan kepada kontributor untuk menuangkan gagasan dan pengalaman dalam bentuk puisi. Mengarsipkan memastikan karya-karya tersebut terdokumentasi dengan lebih teratur melalui Padlet. Sementara itu, mengapresiasi diwujudkan melalui proses kurasi dan penghimpunan karya dalam antologi puisi sehingga tulisan yang dihasilkan memperoleh ruang untuk dibaca dan dihargai.
Mendorong Keberlanjutan Budaya Literasi di Sekolah
Selain pelatihan bagi guru dan komunitas, tim AKSARA juga melaksanakan pendampingan pemanfaatan Padlet kepada siswa pada Rabu, 7 Oktober 2026, melalui kegiatan luring dan daring. Pendampingan ini bertujuan mengenalkan penggunaan Padlet sebagai media untuk mengumpulkan dan mengarsipkan karya sastra, sekaligus mendorong siswa agar lebih aktif menghasilkan karya.
Melalui pelatihan tersebut, siswa dan komunitas diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi digital yang dapat mendukung kegiatan literasi. Harapannya, pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh tidak berhenti setelah kegiatan pendampingan selesai, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam aktivitas sekolah.

Tim Proyek Kepemimpinan yang beranggotakan Nurmalia Sarah, Melva Nurjanah, Novi Damaiyanti, Puji Rahma Tulaini, Nadia Armanda, Muhammad Danil, Natasha Alya Putri, Nabila Rahman, dan Nur Afni Widari, berharap pemanfaatan Padlet dapat dikembangkan menjadi salah satu program kerja Komunitas Bahasa dan Sastra SMA Negeri 4 Pekanbaru. Dengan adanya ruang pengarsipan digital, komunitas diharapkan dapat menghimpun puisi dan bentuk karya sastra lainnya secara berkelanjutan.
“Upaya ini juga diharapkan dapat menumbuhkan lingkungan sekolah yang semakin mencintai literasi, memberi ruang bagi kreativitas siswa, serta membangun kebiasaan mengapresiasi karya,” pungkas Sarah.
Sementara, Dosen Pendamping Andi Idayani SPd MPd mengungkapkan, melalui AKSARA, mahasiswa PPG Calon Guru FKIP Universitas Islam Riau berupaya menunjukkan bahwa teknologi digital dapat dimanfaatkan bukan hanya sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga sebagai ruang untuk merawat kreativitas dan mendokumentasikan karya.
“’Berkarya, Mengarsipkan, Mengapresiasi’ ini menjadi pesan utama bahwa setiap karya memiliki nilai, layak disimpan, dan patut mendapatkan apresiasi. Dengan dukungan sekolah dan keberlanjutan peran komunitas, AKSARA diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi tumbuhnya budaya literasi yang lebih kuat di SMA Negeri 4 Pekanbaru,” ujarnya.
Apresiasi disampaikan pihak sekolah melalui Guru Pembina Komunitas Bahasa dan Sastra SMAN 4 Pekanbaru, Pebriyanti SPd. Menurutnya, kegiatan ini sangat peositif bagi komunitas bahasa dan sastra yang ia bina.
“AKSARA sangat membantu Komunitas Bahasa dan Sastra karena sekarang kami punya wadah yang jelas untuk menyimpan karya siswa. Selama ini karya-karya itu ada, tetapi belum tertata dengan baik. Dengan adanya Padlet dan panduan yang diberikan, saya berharap kegiatan ini bisa terus dilanjutkan oleh komunitas,” ucap Pebriyanti. **


