Berita FotoPekanbaru

Terang Abadi di Kelas Istimewa: Ketika Surya Menyapa Harapan Anak-Anak SLB Melati

Narasi dan Foto: Abbas Abdurrahman

 

TAWA RIANG memecah keheningan pagi. Di dalam ruang kelas yang sederhana, namun dipenuhi sentuhan kehangatan, sekelompok anak istimewa sedang asyik belajar dan bermain. Dinding-dindingnya adalah galeri dadakan; lukisan dan gambar karya tangan mungil mereka terbingkai rapi, bersaing perhatian dengan deretan kreasi di atas rak bagian belakang. Ruangan ini, kini, terasa luar biasa.

Pagi itu, Jum’at, 10 Oktober 2025, matahari Pekanbaru tidaklah terik di luar Sekolah Luar Biasa (SLB) Melati, Rumbai Timur, Kota Pekanbaru. Namun, ruang kelas di Jalan Pramuka Gang Pandu itu tetap terang benderang. Lampu pijar di plafon dibiarkan menyala, bahkan di siang hari. Inilah penanda sebuah perubahan besar: sejak sekolah ini mendapatkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hybrid.

Suasana belajar yang riang di SLB Melati Pekanbaru, Jum’at (10/10/2025), terbantu oleh terangnya lampu yang menggunakan daya dari PLTS bantuan PHR.

Berbekal sistem berkapasitas 3,7 KWP dengan baterai penyimpanan energi 5 kWh, 107 siswa berkebutuhan khusus (difabel) di SLB Melati kini merasakan kenyamanan belajar yang berbeda.

“Anak-anak tetap bisa melanjutkan pelajaran tanpa terganggu,” ujar Kepala SLB Melati, Hj Zamiatul Azma. Pernyataan ini sungguh terasa maknanya, terutama ketika wilayah sekitar sekolah mengalami pemadaman listrik. Di saat tetangga gelap gulita, di sini, kipas angin tetap berputar dan ruang kelas tetap terang.

Bu Ami, sapaan akrabnya, tak henti bersyukur. Namun, ia menyimpan harapan besar. Saat ini, listrik dari PLTS baru menerangi sebagian ruang kelas. Sementara, SLB Melati masih mengandalkan listrik PLN berdaya 1.200 watt—sebuah batasan yang hanya memungkinkan pengaktifan satu unit pendingin ruangan (AC) saja.

Sr Officer Media Relations Rokan Victorio Chatra Primantara, Officer CID Lidia Sari dan Soni Maulana Yusup, Ketua Yayasan Pendidikan Melati M Jakfar, dan mitra PHR dari Universitas Muhammadiyah Riau, Ajeng Safitri memperhatikan data yang ditampilkan di layar kecil Inverter PLTS, Jumat (10/10/2025).

“Biasanya kita pakai lampu (dengan watt) kecil di kelas, padahal kita butuhkan terang yang maksimal agar proses belajar itu maksimal juga, tidak merusak mata anak, dan lain-lain,” ungkap Ketua Yayasan Pendidikan Melati, M Jakfar MPd. Dengan tambahan daya 5.000 watt dari PLTS, bukan hanya jumlah pendingin ruangan yang bisa ditambah, lampu-lampu pun kini bisa diganti dengan yang lebih terang. “Sangat terasa manfaatnya bagi kami,” imbuhnya.

Energi Bersih, Akses Inklusif

Kehadiran PLTS di SLB Melati Rumbai adalah bagian krusial dari inisiatif tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan. Melalui Program Pemberdayaan Komunitas Penyandang Disabilitas Pertamina (Pemko Pesmina) Tahun 2025, langkah ini menjadi upaya pemberdayaan sosial-ekonomi yang ambisius: menciptakan ekosistem kelompok penyandang disabilitas yang mandiri dan inklusif.

Siswa-siswi SLB Melati, Pekanbaru sedang belajar bahasa isyarat, dibantu penerangan dari lampu listrik tenaga surya, Jumat (10/10/2025).

Lebih dari sekadar sumber energi, PLTS yang dipasang 16 – 17 Agustus 2025 dan diaktivasi pada 18 Agustus ini juga menjamin aksesibilitas bagi siswa-siswi difabel untuk menggunakan berbagai alat bantu atau peralatan praktik yang membutuhkan daya listrik. Transisi energi bersih, dalam konteks ini, menjadi jalan nyata menuju lingkungan belajar yang berkelanjutan dan inklusif.

“Pemasangan PLTS ini bukan hanya solusi energi, tetapi juga wujud nyata komitmen PHR dalam mendukung pendidikan inklusif bagi anak-anak difabel sekaligus memperkenalkan energi bersih kepada generasi muda,” kata Manager Community Involvement and Development (CID) Regional 1 PHR, Iwan Ridwan Faizal, dalam rilisnya.

Selain memperkenalkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), pemasangan PLTS ini juga secara langsung mengurangi biaya operasional sekolah. Dan agar manfaat ini tak lekang dimakan waktu, program ini turut menyertakan pelatihan Green Warrior bagi para guru dan staf. Tujuannya sederhana: agar mereka mampu mengelola dan merawat sistem PLTS secara mandiri.

Soni Maulana Yusup dari Community Involvement Development Regional 1 PHR menjelaskan informasi di aplikasi yang digunakan untuk memantau kondisi PLTS di SLB Melati Pekanbaru, kepada Ketua Yayasan Pendidikan Melati M Jakfar, Jumat (10/10/2025). Ajeng Safitri, mitra PHR dari Universitas Muhammadiyah Riau ikut mendengarkan penjelasan tersebut.

Kesempatan untuk melihat langsung manfaat perubahan ini dirasakan oleh Lidia Sari, Officer CID Regional I PHR, saat berkunjung pada 10 Oktober 2025. Di ruang kelas yang kini cukup terang, ia menyaksikan proses belajar mengajar yang lebih nyaman, bersama siswa-siswi yang istimewa.

“Ya, dari tadi kita melihat kegiatan belajar anak-anak di sini, terlihat anak-anak sangat antusias ya, semangat dalam belajar,” tuturnya dengan kesan mendalam. “Kami berharap PLTS yang kami pasang sangat bermanfaat bagi sekolah. Juga mendukung semua kegiatan belajar mengajar di sini,” tutup Lidia, yang bersama Soni Maulana dari Tim CID Regional I PHR juga hadir saat pengaktifan PLTS.

Di bawah atap SLB Melati, harapan kini bersinar lebih terang. Bukan hanya dari lampu pijar yang bertenaga surya, namun juga dari semangat belajar yang tidak lagi terputus, didukung oleh komitmen untuk energi yang lebih bersih dan masa depan yang lebih inklusif. **

 

Back to top button